Rabu, 09 November 2011

sadranan


Tradisi Sadranan di Bulan Ruwah
Tradisi Sadranan di Bulan Ruwah

oleh santy

SETIAP memasuki bulan Ruwah atau Syakban dalam kalender Hijriyah, masyarakat Jawa tidak mungkin melupakan sadranan, sebuah tradisi untuk menengok makam dari keluarga dekat seperti orang tua, nenek, anak atau saudara yang telah meninggal dunia. Tradisi sadranan juga dilakukan para Presiden RI sejak dari Sukarno hingga SBY. Mereka selalu nyadran ke makam orang tuanya sebagai tanda bakti seorang anak dengan mendoakan agar arwahnya diberi tempat yang layak di alam barzah atau kubur.
Tradisi sadranan merupakan tradisi tahunan yang tidak hanya dilakukan di Jawa tetapi juga Bali dan Kalimantan. Pasalnya, sadranan memang merupakan warisan ajaran Hindu Budha sebelum masuknya Islam ke Nusantara.
Menurut sejarawan yang juga ulama, almarhum Buya Hamka, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad ke 8 M, bukan abad 13 M sebagaimana sering ditulis para orientalis Belanda.
Dalam sejarahnya, sadranan berasal dari zaman Hindu Budha, dimana diadakan upacara 1000 hari wafatnya seseorang yang disebut dengan nyadran atau craddha. Tidak hanya di Jawa, di Kalimantan juga ada upacara yang mirip nyadran yang dikenal tiwah. Sementara di Pegunungan Tengger dikenal ngentas dan di Bali memukur.
Dalam buku Negara Kertagama yang ditulis pujangga Kerajaan Majapahit Empu Prapanca pada 1350-1389 M, disebutkan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1362 M mengadakan craddha, untuk menghormati arwah nenek moyangnya Rajapadni Gayatri. Adanya pemberian semah (sajian) craddha tersebut dimulai pada tanggal 4 bulan Bhadra (Ruwah) tahun 1284 Caka (1362 M). (Solihin Salam, Sejarah Islam di Jawa, hal 66).
Pada masa Kerajaan Majapahit, sadranan dimaksudkan untuk memberi sesaji kepada para arwah leluhur, memuja sekaligus meminta sesuatu kepada para arwah leluhur. Sebab menurut kepercayaan Hindu Budha, arwah leluhur bisa dimintai pertolongan maupun berkah, melalui penyembelihan hewan seperti kerbau, kambing, maupun ayam. Bahkan ada juga yang membakar kemenyan pada waktu kematian ataupun selamatan, yang merupakan kepercayaan terhadap animisme dan sinkretisme.
Masa Islam
Namun setelah masuknya Islam ke Pulau Jawa, maka sedikit demi sedikit kepercayaan animisme dan sinkretisme tersebut dirubah menjadi kepercayaan terhadap Tauhid (mengesakan Allah SWT).
Setelah runtuhnya Majapahit sebagai akibat dari perebutan kekuasan di antar elite Kerajaan, maka muncullah Kasultanan Islam Demak yang didirikan Raden Patah yang juga putera raja terakhir Majapahit Raja Brawijaya V dengan istri selir seorang puteri dari Campa (Vietnam). Dalam mendirikan Kasultanan Demak, Raden Patah didukung para ulama dan dia sendiri termasuk Walisongo.
Sejak saat itu dakwah Islam yang ditopang dengan kekuasaan politik kepada masyarakat Jawa semakin intensif, sehingga sedikit-demi sedikit mereka mengenal Islam. Dengan memeluk Islam, tradisi sadranan yang semula berbau animis dan sinkretis serta kemusyrikan dengan meminta sesuatu kepada ahli kubur, maka berubah menjadi tradisi yang berjiwa Tauhid seperti mendoakan ahli kubur agar diberi tempat yang layak di alam barzah. 

Sebab orang mati sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, mereka hanya ingin didoakan oleh keluarganya yang masih hidup. Apalagi ajaran Islam juga mengenai istilah yang hampir sama dengan sadranan yakni ziarah kubur.
Mengenai ziarah kubur, memang diperbolehkan bahkan dianjurkan dalam Islam. Ziarah kubur dimaksudkan untuk mengambil ibarat atau mengingat akan kematian. Sebab orang yang sekarang ziarah kubur, nanti pasti akan menjadi ahli kubur, sebab umur manusia sudah ditentukan dan setiap detik akan selalu berkurang. Dengan demikian, bagi yang masih hidup akan selalu berhati-hati dalam bertindak di dunia, karena nanti semuanya akan dipertanggungjawabkan segala amalan baik dan buruknya setelah dirinya mati dan berada di alam barzah maupun alam akhirat sesudah kiamat nanti. Sebab kalau manusia mati sudah tidak bisa lagi berbuat amal sholeh.
Selain itu ziarah kubur juga dimaksudkan untuk mendoakan ahli kubur, bukan meminta sesuatu melalui wasilah (perantaraan) ahli kubur yang bisa berakibat pada kemusyrikan, padahal syirik kepada Allah SWT adalah dedengkot dari segala dosa besar. Adapun doa untuk ahli kubur adalah agar diberi rahmat dan diampuni segala dosa-dosanya serta diberi tempat yang layak sesuai dengan amal kebaikannya semasa masih hidup di dunia.
Namun ada beberapa adab atau tatakrama untuk ziarah kubur yang sesuai dengan ajaran Islam. Seperti berperilaku sopan dan ramah ketika mendatangi kubur, tidak meminta sesuatu kepada ahli kubur, tidak duduk dan menginjak-injak serta tiduran diatas kubur, tidak melakukan tindakan yang tidak senonoh seperti kencing, buang air besar, melakukan hubungan sex, pacaran dan membuang sampah di kuburan.
Selain itu mengucapkan salam ketika memasuki kuburan, melepaskan sandal atau sepatu ketika melewati sela-sela makam, memohonkan ampun kepada Allah SWT dan mendoakan almarhum dan almarhumah agar diberi tampat yang layak di alam barzah dan dijauhkan dari siksa kubur.
Semula Nabi Muhammad SAW melarang umat Islam untuk ziarah kubur. Tetapi setelah dirasa keimanan umat Islam sudah kuat sehingga bisa terhindar dari bahaya kesyirikan, maka Nabi membolehkan untuk ziarah kubur bahkan disunahkan.
Dahulu saya melarang kamu menziarahi kubur. Tetapi sekarang berziarahlah, karena akan mengingatkan kamu kepada akhirat (kematian). (Hadis riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud).
Perbedaan
Memang terdapat perbedaan antara sadranan dan ziarah kubur. Pertama, istilah sadranan berasal dari warisan Hindu Budha. Sedangkan ziarah kubur berasal dari ajaran Islam yang didakwahkan para Walisongo di Tanah Jawa.
Kedua, sadranan hanya dilakukan pada bulan Ruwah atau Syakban saja, sedangkan ziarah kubur bisa bulan apa saja dan waktunya kapan saja pagi, siang maupun malam hari. Bahkan Nabi SAW sering melakukan ziarah ke kubur sahabatnya di makam Baqi Madinah pada dini hari menjelang sholat Subuh.
Ketiga, sadranan hanya dilakukan pada keluarga dekatnya saja, sedangkan ziarah kubur bisa dilakukan terhadap makam siapa saja termasuk para tokoh bangsa bahkan non muslim sekalipun. Pasalnya, esensi dari ziarah kubur adalah mengingatkan akan kematian, dimana seluruh mahluk hidup pasti akan mati, apakah mereka tokoh nasional yang hebat ataukah orang biasa.
Sedangkan orang mati yang dibawa bukannya harta benda atau pangkat jabatan, tetapi amal kebaikan selama hidup di dunia. Diibaratkan, kalau gajah mati meninggalkan gading, sedangkan manusia mati meninggalkan amal kebajikan.
Sehingga bagi orang yang masih hidup, harus selalu berbuat amal kebaikan untuk bekal hidup sesudah mati di alam akhirat nanti, dimana setiap manusia wajib mempertanggung-jawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia yang fana ini. (Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar